Belitung (ANTARA) -
‎Majelis Mahayana Indonesia (Mahasi) Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pdt. Budi Dharmapanno  mengatakan perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) sebagai momentum penting dalam membangun cinta kasih dan kedamaian yang dimulai dari dalam diri sendiri.

‎"Kemenangan sejati pada hakikatnya bukanlah sebuah kemenangan yang membawa penderitaan bagi pihak lain, melainkan kemampuan untuk sepenuh hati berdamai dengan segala negatifitas dan karakter diri sendiri," kata Pdt. Budi Dharmapannoo dihubungi ANTARA di Tanjungpandan, Minggu.

‎Pdt  Budi Dharmapanno yang sedang menghadiri rangkaian sakral peringatan Waisak di Candi Sojiwan dan Plaosan Kabupaten Klaten mengatakan seseorang yang telah merasakan kedamaian dan kebahagiaan di dalam dirinya tidak akan memiliki kapasitas untuk membuat pihak lain menderita, apalagi sampai menciptakan konflik sosial di tengah masyarakat.

‎Rangkaian sakral peringatan Waisak di Candi Sojiwan dan Plaosan Kabupaten Klaten memadukan tradisi keagamaan dan kearifan lokal. 

‎Prosesi dimulai sejak pagi hari dengan ritual pengambilan Air Suci dari sumber mata air Umbul Jumprit di Temanggung dan Api Dharma dari sumber api abadi Mrapen di Grobogan.

‎Kedua elemen suci tersebut kemudian diarak menuju Candi Sojiwan sebagai simbol penyucian batin dari segala kekotoran jiwa sekaligus lambang penerangan kebijaksanaan guna mengusir kegelapan batin.

‎Pdt. Budi menjelaskan, momentum bulan purnama Waisak merupakan waktu yang tepat untuk merenungkan kembali tiga peristiwa agung dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian Penerangan Sempurna atau Kebuddhaan, dan Parinirwana (wafatnya Buddha).

‎Esensi sentral dari peringatan ini, lanjut dia, adalah membangkitkan kapasitas manusia untuk sadar (eling) dan mengendalikan diri terhadap berbagai nafsu keinginan, sehingga mampu menghadapi segala permasalahan hidup secara tenang dan terkontrol.

‎Ia juga mengingatkan pentingnya hidup pada momen kekinian dan belajar memikul tanggung jawab atas kehidupan masing-masing dengan cara mengakui kelemahan diri tanpa harus menyalahkan orang lain.

‎Melalui tema "Damai dalam Diri, Harmoni Dengan Semua", Pdt. Budi Dhammapanno berharap tekad tulus umat yang didasari pengertian benar ini mampu mewujudkan perdamaian yang nyata, memperkuat persatuan, serta menjunjung tinggi musyawarah dan keadilan sosial yang beradab bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

‎"Jika setiap orang mencoba untuk memperbaiki kesalahannya sendiri, maka tidak akan ada masalah ataupun konflik di dunia ini," ujarnya.
 



Pewarta: Apriliansyah
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026