Saat ini nelayan tradisional mulai beralih mengembangkan usaha budidaya ikan air laut, karena mereka menilai lebih menguntungkan dibandingkan menekuni penangkapan ikan,
Pangkalpinang (Antara Babel) - Pembudidaya ikan menggunakan jaring apung laut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 289 kelompok atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 270 kelompok, karena minat nelayan tradisional mengembangkan usaha tersebut cukup tinggi.

"Saat ini nelayan tradisional mulai beralih mengembangkan usaha budidaya ikan air laut, karena mereka menilai lebih menguntungkan dibandingkan menekuni penangkapan ikan," kata Kepala Seksi Usaha Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Babel, Surati di Pangkalpinang, Jumat.

Ia mengatakan kelompok budidaya ikan laut menggunakan sistem keramba jaring apung masih tersebar di Kabupaten Bangka Selatan, Belitung dan Belitung Timur, sementara kabupaten/kota lainnya belum meminati usaha budidaya ikan laut itu.

"Budidaya ikan laut ini sangat menguntungkan nelayan, karena harga ikan yang tinggi dan pemasaran hasil panen juga mudah," ujarnya.

Menurut dia saat ini kendala pengembangan budidaya ikan laut ini yaitu ketersediaan bibit ikan yang terbatas, sehingga mempengaruhi produksi 2016 sebanyak 112,96 ton atau mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya 154,28 ton.

Sebanyak 112,96 ton hasil perikanan budidaya ikan jaring apung laut 112,96 ton dengan rincian bawal bintang 0,20 ton, kerapu 122,43 ton dan kakap 0,33 ton.

"Kami terus berupaya untuk menyediakan bibit ikan laut ini, untuk mendorong perkembangan usaha masyarakat pesisir ini," ujarnya.

Ia memperkirakan pada tahun ini diperkirakan hasil budidaya ikan laut akan mengalami peningkatan cukup signifikan, karena pemerintah telah mengalokasikan dana bantuan pengadaan ratusan ribu bibit ikan kepada petani.

"Kami terus mendorong dan membantu nelayan untuk mengembangkan usaha ini, karena dapat mempercepat produksi dan kesejahteraan keluarga nelayan tradisional di daerah ini," ujarnya.


Pewarta: Aprionis
Editor : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026