"Meski harga naik tetapi transaksi sepi karena petani sulit memetik dan mengeringkan biji kakao selama musim hujan,"Pangkalpinang (Antara Babel) - Harga kakao di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, naik menjadi Rp16 ribu dari sebelumnya Rp15 ribu per kilogram, tetapi minim transaksi sebab petani sulit mengeringkan biji komoditas itu pada musim hujan.
"Meski harga naik tetapi transaksi sepi karena petani sulit memetik dan mengeringkan biji kakao selama musim hujan," ujar Gino, pedagang pengumpul di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Senin.
Ia menjelaskan, harga kakao kering naik karena pada awal tahun ini permintaan dari eksportir meningkat cukup tinggi, sementara hasil kakao petani berkurang drastis karena seringdan luas lahan perkebunan komoditas tersebut pun berkurang.
Data Dinas Pertanian, Perkebunan dan Pertenakan Provinsi Babel luas perkebunan kakao pada 2011 mencapai 250 hektare, mengalami penurunan dibanding 2010 seluas 350 hektare.
Berkurangnya luas areal perkebunan kakao diikuti menurunnya produksi kakao kering menjadi 40 ton per tahun jika dibandingkan produksi kakao 2009 yang mencapai 70 ton per tahun.
Gino yang juga seorang petani ini menyatakan, keterbatasan areal dan produksi kakao disebabkan minat masyarakat menanam kakao berkurang, sementara banyak lahan dijadikan lokasi tambang timah, perkebunan sawit dan karet yang nilai ekonomisnya lebih tinggi.
"Masyarakat sekarang ini hanya menanam kakao di sekitar pekarangan rumah sebagai pekerjaan sambilanpadahal kakao cukup menjanjikan seiring membaiknya harga kakao di pasaran.
Selain itu, kata dia, produksi kakao juga disebabkan serangan hama tupai memakan buah kakao yang hampir matang.
"Hewan tersebut sangat mengganggu dan membuat hasil kakao menurun dan hama tersebut sulit diberantas sebab binatang tersebut cukup gesit," ujarnya.
Ia menjelaskan, transaksi kakao saat ini hanya 5 hingga 10 kilogram dalam sehari, bahkan terkadang tidak ada transaksi sama karena pasokan dari petani terbatas.
"Kalaupun ada masyarakat yang melakukan transaksi kakao kering, itupun hasil dari tanaman kakao yang dijadikan sebagai tanaman selingan untuk batas tanah atau sebagai tanaman pelindung di halaman rumah," ujarnya.
Menurut dia, jika tidak ada langkah masyarakat untuk membudidayakan tanaman kakao diperkirakan satu tahun kedepan kakao akan semakin sulit diperoleh.
"Dengan maraknya perkebunan sawit dan karet, masyarakat kurang tertarik memelihara dan menanam kakao. Tanaman kakao yang sudah ada pun ditinggalkan begitu saja sehingga tidak produktif lagi," ujarnya.
Sementara itu, Dedi, seorang pedagang pengumpul lainnya mengatakan, harga kakao cukup stabil, namun pedagang belum bisa memenuhi permintaan pasar.
"Dengan membaiknya harga karet dan sawit masyarakat berlomba-lomba menaman sawit dan karet. Tanaman kakao banyak yang diabaikan bahkan banyak yang mati akibat kurang mendapat perawatan," ujarnya.
Pewarta: Pewarta: AprionisUploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.