Senin, 25 September 2017

Napak Tilas Proklamasi (1) - Indonesia Merdeka Sebelum Jagung Berbunga

id Napak Tilas, Proklamasi, Merdeka
Napak Tilas Proklamasi (1) - Indonesia Merdeka Sebelum Jagung Berbunga
Pelajar memasuki rumah peninggalan tempat Sukarno-Hatta disembunyikan pada peristiwa Rengasdengklok, di Rengasdengklok, Karawang, Sabtu (17/8). (ANTARA FOTO/Paramayuda)
Bung Hatta sependapat bahwa proklamasi harus segera dilakukan. Namun, dia ingat di Singapura melihat tentara Jepang masih cukup kuat. Akhirnya mereka menuju rumah Bung Karno,
Jalan Tugu Proklamasi, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menuju Rumah Bersejarah Rengasdengklok cukup lengang.

Rumah itu merupakan tempat Proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta beristirahat saat dibawa para pemuda sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pemandangan cukup bervariasi. Sesekali terlihat persawahan di kiri-kanan jalan, tetapi lebih banyak rumah penduduk yang terlihat. Semakin dekat dengan lokasi, juga terlihat Markas Koramil 0404/Rengasdengklok dan beberapa sekolah.

Terbayang di pikiran, apakah mungkin itu jalan yang sama yang dilalui Soekarno-Hatta saat dulu dibawa para pemuda ke markas Pembela Tanah Air (PETA) di Rengasdengklok. Saat itu, kondisi jalan tentu belum sebagus saat ini. Kiri-kanan jalan pun tentu masih banyak berupa hutan.

Rengasdengklok bisa dicapai dari Jakarta melalui Jalan Tol Jakarta-Cikampek, keluar di Gerbang Tol Karawang Barat, dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Dari Gerbang Tol Karawang Barat, Rengasdengklok hanya berjarak sekitar 25 kilometer.

Pada 16 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta dibawa kelompok pemuda, tentu jalan tol itu belum ada. Namun, waktu tempuh saat itu tidak berbeda jauh dengan saat ini, sekitar dua jam.

Pikiran pun melayang membayangkan situasi saat itu. Pemuda-pemuda Indonesia, melalui siaran radio luar negeri yang didengarkan secara sembunyi-sembunyi, mendengar berita bahwa Jepang semakin terdesak.

Mereka pun semakin bersemangat agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan. Sebelumnya, usaha-usaha untuk mempersiapkan kemerdekaan sudah dilakukan melalui beberapa badan bentukan pemerintah pendudukan Jepang.

Pada 1 Maret 1945, pemerintah pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan "Dokuritsu Zyumbi Tyosakai" atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Menurut buku komik "Peristiwa Sekitar Proklamasi" yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, pembentukan badan yang diresmikan pada 28 Mei 1945 tersebut sebenarnya memiliki tujuan politik agar rakyat Indonesia tetap memberikan dukungan kepada Jepang dalam menghadapi Perang Asia.

BPUKPI beranggotakan 62 orang bangsa Indonesia termasuk empat orang dari golongan keturunan China, Arab dan Belanda, ditambah tujuh orang bangsa Jepang.

Badan tersebut diketuai dr Radjiman Wedyodiningrat dibantu dua orang wakil ketua, yaitu RP Soeroso dan seorang Jepang bernama Yoshido Ichibangase.

Hal penting yang berhasil dirumuskan oleh BPUPKI, yaitu dasar negara Pancasila, naskah pernyataan kemerdekaan dan undang-undang dasar.

Tugas BPUPKI kemudian dilanjutkan oleh "Dokuritsu Zyumbi Inkai" atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada 7 Agustus 1945.

PPKI beranggotakan 21 orang dari beberapa tokoh pergerakan dan suku yang ada di Indonesia dengan diketuai Ir Soekarno dibantu wakil ketua Drs Mohammad Hatta.

Bertemu Terauchi


Pada 9 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman berangkat ke Dalat, Vietnam untuk bertemu Panglima Tentara Jepang di Asia Tenggara Marsekal Hisaichi Terauchi. Dalam pertemuan tersebut, Terauchi menyatakan pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Untuk melaksanakan pernyataan kemerdekaan Indonesia, Terauchi menyerahkan kepada Soekarno-Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI.

Pertemuan tersebut sebenarnya merupakan strategi Terauchi dalam menutupi kondisi Jepang yang kian terdesak. Sebagai pemimpin militer tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Terauchi sendiri sempat terserang stroke saat mendengar Burma lepas dari kekuasaan Jepang pada 10 Mei 1945.

Pada 26 Juli 1945, Sekutu telah mengeluarkan Deklarasi Postdam yang memberikan pilihan kepada Jepang untuk mengumumkan penyerahan tidak bersyarat kepada semua angkatan perangnya dan patuh dalam segala tindakan. Penolakan terhadap perintah berarti kehancuran total bagi Jepang.

Apalagi, Amerika Serikat yang belakangan bergabung dengan Sekutu, setelah pangkalannya di Pearl Harbour, Hawaii diserang Jepang, menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Ancaman Sekutu bahwa Jepang akan mengalami kehancuran total terlihat semakin mendekati kenyataan dengan pemboman dua kota penting Jepang yang merenggut ribuan jiwa manusia itu.

Pada 13 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman meninggalkan Dalat untuk kembali ke Jakarta, tetapi sebelumnya singgah terlebih dahulu ke Singapura untuk bertemu dengan anggota PPKI dari Sumatera, yaitu Teuku Mohammad Hasan, Amir dan Abas.

Mereka berdiskusi mengenai kemerdekaan Indonesia dan perkembangan terakhir Jepang dalam Perang Asia.

Menurut Sejarawan Rusdhy Hoesein, saat singgah ke Singapura itu, Soekarno, Hatta dan Radjiman menyaksikan sendiri bahwa tentara Jepang masih cukup kuat dan memiliki semangat tempur.

"Hal itulah yang membuat Soekarno-Hatta berbeda pendapat dengan kelompok pemuda yang ingin segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Soekarno-Hatta khawatir memproklamasikan kemerdekaan secara gegabah akan membuat tentara Jepang bereaksi dan menimbulkan pertumpahan darah," katanya.

Soekarno-Hatta meyakini tentara Jepang masih cukup kuat dalam mempertahankan kekuasaaannya di wilayah pendudukan. Apalagi, saat itu belum ada kabar Jepang menyerah kepada sekutu.

Pada 14 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta. Pada saat itu Soekarno menyampaikan pidato bahwa kemerdekaan Indonesia akan segera terlaksana.

"Bung Karno menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak perlu menunggu jagung berbuah karena akan terlaksana sebelum jagung berbunga," kata Rusdhy.

Pada hari yang sama, Kaisar Hirohito pada akhirnya terpaksa mengumumkan kekalahan Jepang. Dia memerintahkan seluruh tentara Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada tentara Sekutu. Namun, berita tersebut ditutup-tutupi oleh tentara Jepang yang ada di Indonesia.

Hanya sedikit orang yang mendengar berita itu melalui siaran radio luar negeri yang ditangkap secara diam-diam. Salah satunya adalah Sutan Syahrir. Dia segera menemui Hatta untuk menyampaikan berita tersebut.

Hatta kaget mendengar berita itu. Dia sendiri berpendapat dengan kekalahan Jepang, maka kemerdekaan hanya dapat terjadi dengan tangan bangsa Indonesia sendiri. Namun, penyelenggaraannya harus melalui PPKI.

Syahrir tidak sependapat dengan Hatta. Menurut Syahrir, apabila melalui PPKI, maka sekutu akan menganggap kemerdekaan Indonesia adalah buatan Jepang. Karena itu, dia mendesak Soekarno-Hatta untuk segera mengumumkan kemerdekaan melalui radio.

"Bung Hatta sependapat bahwa proklamasi harus segera dilakukan. Namun, dia ingat di Singapura melihat tentara Jepang masih cukup kuat. Akhirnya mereka menuju rumah Bung Karno," tutur Rusdhy.

Di rumah Soekarno, Hatta dan Syahrir menyampaikan berita kekalahan Jepang. Syahrir juga menyampaikan desakan agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Namun, Soekarno menyatakan dia tidak bisa bertindak sendiri. Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan tugas PPKI, di mana dia bertindak sebagai ketua. Dia tidak ingin dianggap melangkahi PPKI yang dia ketuai.

Pada 15 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo berusaha menghubungi pejabat-pejabat Jepang untuk menanyakan ketegasan berita tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu. Namun, sejumlah pejabat yang akan ditemui ternyata sedang tidak ada di tempat.

Atas usul Soebardjo, mereka kemudian mencoba menanyakan kebenaran berita itu kepada Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang.

Kepada Soekarno, Hatta dan Soebardjo, Maeda mengatakan bahwa berita kekalahan Jepang yang disiarkan radio itu berasal dari Sekutu. Namun, dia menyatakan belum menerima sendiri berita dari Tokyo.

Setelah mendapat penjelasan dari Maeda, Soekarno, Hatta dan Soebardjo kemudian berinisiatif untuk mengadakan rapat dengan seluruh anggota PPKI yang sudah lengkap dan menginap di Hotel Des Indes. Seluruh anggota PPKI diminta untuk hadir ke Kantor Sanyo Kaigi di Pejambon keesokan harinya pada pukul 10.00.

Pergerakan Pemuda

Pada saat yang sama, Sutan Syahrir dengan kelompok pemuda menyebarkan selebaran anti-Jepang dan mengorganisasi para pemuda pelajar di berbagai kota di Jawa untuk bersiap-siap mengambil alih kekuasaan.

Sore hari 15 Agustus 1945, golongan pemuda menjemput anggota PPKI yang menginap di Hotel Des Indes. Mereka di bawa ke salah satu markas pemuda di Jalan Prapatan 10.

Di tempat itu, para anggota PPKI dipaksa mendengarkan pidato Syahrir yang menyatakan kemerdekaan harus dibentuk sendiri oleh bangsa Indonesia. Para anggota PPKI ditahan sampai akhirnya dikembalikan ke Hotel Des Indes pada malam hari.

Di tempat lain, di Gedung Laboratorium Bakteriologi Jalan Pegangsaan Timur 16, kelompok pemuda revolusioner mengadakan rapat sekitar pukul 20.00 yang memutuskan proklamasi kemerdekaan harus dilakukan bangsa Indonesia sendiri tanpa campur tangan bangsa asing.

Kelompok pemuda revolusioner menugaskan Wikana dan Darwis menemui Soekarno-Hatta. Mereka kemudian pergi ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 dan ditemui Soekarno sekitar pukul 22.00.

Kepada Soekarno, mereka menyampaikan keputusan rapat pemuda revolusioner. Soekarno mengatakan kemerdekaan Indonesia akan tercapai, hanya tinggal menunggu waktu.

Tidak lama kemudian, Hatta datang bersama Soebardjo, Buntaran, Sanusi dan Iwa Kusumasumantri. Menyambung perkataan Soekarno, Hatta menyatakan bangsa Indonesia harus menunggu berita resmi tentang penyerahan Jepang.

Pada saat itulah Wikana kemudian berkata bila Bung Karno tidak mengumumkan kemerdekaan Indonesia saat itu juga, keesokan harinya akan terjadi pertempuran besar-besaran.

"Bung Karno marah dan berkata Ini batang leherku. Seret aku ke pojok itu dan potong leher ini malam ini juga. Tidak usah, menunggu sampai esok," tutur Rusdhy.

Menurut Rusdhy, Bung Hatta kemudian menengahi dengan mengatakan kelompok pemuda revolusioner sebaiknya mencari figur pemimpin lain untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia malam itu juga sebagaimana mereka inginkan. (bersambung)

Editor: Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga