Setiap hari, dia membuat sekitar 2.000 butir bakso. Jumlah itu dapat bertambah dua kali lipat pada saat Idul Fitri atau ada pesanan untuk pesta.
Manggar, Belitung Timur (ANTARA News) - Nyonya Fung Li dengan tangkas mengolah adonan ikan dengan sendok sayur untuk menghasilkan bakso bulat yang populer di Belitung Timur.

Fung Li adalah satu dari hanya dua pembuat bakso ikan di Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung.

Sudah enam tahun Fung Li membuat bakso dan keahlian ini dia dapatkan secara otodidak di "pabrik mini" di belakang rumahnya, dekat pelabuhan Manggar.

Setiap hari, dia membuat sekitar 2.000 butir bakso. Jumlah itu dapat bertambah dua kali lipat pada saat Idul Fitri atau ada pesanan untuk pesta.

Fung Li membuat bakso ikan dari daging ikan ekor kuning atau ikan birai. "Ikan satu macam saja. Ikan campur nggak boleh. Kalau ada yang busuk satu, pengaruh ke semuanya."

Empat orang asisten membantu Fung Li.  Setiap hari, mereka bertugas membersihkan 50 kg ikan birai.

Semua proses membuat bakso dikerjakan manual. Fung Li menyebutkan, kadang pelanggan merasa baksonya kurang enak jika dibuat oleh asistennya.

"Mungkin karena beda tangan ya," kata perempuan yang selalu ikut turun tangan membuat bakso.

Dia mengatakan, bakso buatannya murni ikan tanpa pengawet. Jika pun ada bumbu, maka itu hanyalah garam dan vetsin.

Setelah ikan dibersihkan, sisi-sisi dagingnya disayat dengan pisau tajam hingga menjadi tiga potongan tipis. Daging ikan pun dikeruk dengan sendok.

Daging ikan lalu diblender hingga halus dan dimasukkan pada baskom berisi es. "Kalau tidak dingin, nanti ikannya matang dan baksonya keras, tidak kenyal."

Vetsin, garam, dan air pun dicampurkan ke baskon berisi daging ikan yang sudah diblender, lalu diadon hingga merata.

"Kira-kira sebaskom ikan saya kasih tujuh atau delapan ons bumbu," kata dia seraya memasukkan vetsin dan garam tanpa ditakar terlebih dahulu.

Fung Li pun menyiapkan sebaskom air. Di sebelahnya, ada baskom berisi adonan bakso ikan yang siap dibentuk. Dengan bantuan sendok sayur, dia membentuk ribuan bakso yang segera dimasukkan ke baskom berisi air.

"Direndam tiga sampai empat jam sampai baksonya keras.," katanya.

Bakso ikan Belitung buatan Fung Li hanya dapat bertahan hingga tiga hari. Itulah mengapa dia jarang memasarkan buatannya ke luar Belitung Timur.  "Saya pernah kirim ke Bogor, tapi itu pun karena anak saya tinggal di sana. Teman-temannya yang pesan."

Fung Li tidak berniat membuka cabang di tempat lain karena bahan bakunya terbatas. "Kalau di tempat lain susah mendapatkan ikannya."

Tapi jangan kaget, bakso ikan buatannya pernah dijual kepada pembeli dari luar negeri.  "Dari Singapura pernah ada yang beli, tapi dia yang sengaja datang ke sini."

Fung Li belum berencana menjual baksonya ke luar Belitung. "Kalau kirim, saya tidak sanggup. Takut kalau telat karena terlalu lama bisa busuk."

Perempuan itu memberi tips untuk menjaga kekenyalan bakso ikan yang dibuat tanpa bahan pengawet.

"Jangan ditaruh di freezer, tapi taruh di suhu ruangan. Kalau sudah lebih dari tiga hari, rebus lagi," katanya.
(nan)



Editor : Ida

COPYRIGHT © ANTARA 2026