Turunnya NTP disebabkan turunnya empat subsektor. Hanya subsektor tanaman perkebunan rakyat yang mengalami peningkatan sebesar 0,15 persen.Pangkalpinang (Antara Babel) - Nilai tukar petani Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada September 2016 mengalami penurunan 1,10 persen dibanding sebelumnya dari 100,69 menjadi 100,58.
"Turunnya NTP disebabkan turunnya empat subsektor. Hanya subsektor tanaman perkebunan rakyat yang mengalami peningkatan sebesar 0,15 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Babel, Darwis Sitorus di Pangkalpinang, Selasa.
Subsektor yang mengalami penurunan NTP yaitu tanaman pangan sebesar 0,41 persen, subsektor hortikultura 1,45 persen, peternakan 1,27 persen, dan subsektor perikanan turun 0,98 persen.
Indeks harga yang diterima petani (It) pada September 2016 mengalami kenaikan 0,44 persen dibandingkan sebelumnya dari 120,11 menjadi 120,65.
"Kenaikan terjadi karena naiknya It pada dua subsektor, sedangkan tiga subsektor lainnya mengalami penurunan," ujarnya.
It subsektor tanaman pangan naik 0,11 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,72 persen, sedangkan It hortikultura turun sebesar 0,94 persen, peternakan 0,84 persen, dan subsektor perikanan turun 0,47 persen.
Semantara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada September 2016 mengalami kenaikan 0,55 persen bila dibandingkan sebelumnya dari 119,30 menjadi 119,95. Kenaikan itu disebabkan naiknya Ib di seluruh subsektor.
Subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,53 persen, hortikultura 0,52 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,58 persen, peternakan 0,44 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,52 persen.
Ia menjelaskan, NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani di pedesaan.
"Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin tinggi pula tingkat kemampuan daya beli petani," ujarnya.
Pewarta: MulkiEditor : Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.