Pangkalpinang (ANTARA) - Dalam dunia kerja modern yang serba digital, batasan antara tempat kerja dan rumah telah menguap. Kita hidup di era di mana denting notifikasi pesan atau panggilan tak terduga di malam hari sering kali dianggap sebagai "panggilan tugas" yang mendesak.
Fenomena ini menciptakan budaya organisasi "selalu nyala" (always-on culture) yang, jika dibiarkan akan menjadi bom waktu bagi produktivitas dan kesejahteraan mental karyawan.
Budaya organisasi bukan sekadar poster motivasi di dinding kantor. Ia adalah "perekat" yang menentukan bagaimana anggota organisasi berperilaku. Menurut Edgar Schein, budaya terdiri dari asumsi-asumsi dasar yang dipelajari kelompok saat memecahkan masalah.
Dalam konteks MSDM, budaya yang mengabaikan batasan waktu pribadi adalah bentuk kegagalan manajemen dalam menjaga aset terpentingnya: manusia.
Salah satu contoh paling konkret dan progresif dalam penerapan Right to Disconnect (Hak untuk Memutus Koneksi) datang dari raksasa otomotif Jerman, Volkswagen (VW).
Pada 2011, atas desakan serikat pekerja, Volkswagen menerapkan kebijakan teknis yang drastis: Server perusahaan berhenti mengirimkan email ke ponsel pintar karyawan mulai 30 menit setelah shift berakhir hingga 30 menit sebelum shift berikutnya dimulai.
Kebijakan ini memaksa perubahan budaya dari atas ke bawah. Manajer tidak lagi bisa mengharapkan balasan instan di luar jam kerja karena secara sistem, komunikasi tersebut "dibekukan".
Lalu mengapa harus "Right to Disconnect"?
Dukungan terhadap kebijakan ini bukan sekadar tren healing, melainkan tidak lain dan tidak bukan untuk kesejahteraan karyawan sendiri. Karena produktivitas bukan sekadar berapa lama seseorang menatap layar, melainkan bagiamana kualitas fokus mereka saat bekerja.
Dengan membiarkan karyawan menikmati waktu istirahat mereka, maka mereka akan dapat mengisi energi dan bekerja dengan baik keesokan harinya.
Arianna Huffington, pendiri Thrive Global, berpendapat bahwa kelelahan (burnout) bukanlah harga yang harus dibayar untuk kesuksesan. Ia menekankan bahwa organisasi yang sukses adalah yang mengintegrasikan kesejahteraan ke dalam budaya mereka, bukan menganggapnya sebagai fasilitas tambahan.
Sebagai praktisi atau calon manajer SDM, kita harus berani menggeser budaya yang membanggakan kesibukan (hustle culture) menuju budaya yang berbasis pada hasil dan kesehatan jangka panjang.
Organisasi yang akan memenangkan talenta terbaik di masa depan bukanlah yang membayar paling mahal, melainkan yang paling menghargai kehidupan manusianya.
*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung, Ketleen Metha Setiawan
Editor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026