Moskow (ANTARA) - Negara Spanyol, Italia, Yunani, dan Turki mengecam tindakan otoritas Zionis Israel terhadap para aktivis kelompok pro-Palestina Global Sumud Flotilla.

Sebelumnya pada Rabu (20/5), Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa angkatan laut negara itu telah menahan 430 aktivis dari armada yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir membagikan video yang memperlihatkan aparat keamanan Israel memaksa anggota flotilla yang ditahan untuk berlutut menghadap ke bawah dengan tangan terikat.

Ben-Gvir sendiri terlihat dalam rekaman tersebut sambil mengibarkan bendera Israel dan melontarkan pernyataan provokatif kepada para aktivis.

“Saya melihat video yang mengerikan, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat terkait perlakuan tidak adil dan memalukan terhadap anggota flotilla oleh menteri dan polisi Israel ... Saya segera memanggil kuasa usaha Israel ke kementerian luar negeri,” kata Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares, Rabu.

Menlu Spanyol juga menambahkan bahwa Madrid menuntut permintaan maaf publik dari pemerintah Israel.

Italia akan memanggil duta besar Israel di Roma terkait penahanan aktivis flotilla dan menilai perlakuan terhadap mereka tidak dapat diterima, menurut pernyataan bersama Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani.

“Italia juga menuntut permintaan maaf atas perlakuan terhadap para pengunjuk rasa ini, serta pengabaian total terhadap permintaan tegas Pemerintah Italia. Untuk alasan tersebut, Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional akan segera memanggil Duta Besar Israel untuk meminta penjelasan resmi terkait apa yang terjadi,” demikian isi pernyataan tersebut.

Selain itu, Yunani juga telah melayangkan protes terhadap Israel, menurut Kementerian Luar Negeri Yunani.

Turki juga mengecam keras tindakan Israel terhadap anggota flotilla, kata Kepala Departemen Komunikasi Kepresidenan Turki Burhanettin Duran.

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengatakan dirinya terkejut atas perlakuan terhadap para aktivis flotilla yang ditahan.

“Saya benar-benar terkejut dengan video yang diunggah Menteri Kabinet Israel Ben-Gvir yang mengejek mereka yang terlibat dalam Global Sumud Flotilla. Ini melanggar standar paling dasar mengenai rasa hormat dan martabat dalam memperlakukan manusia ...," tulis Cooper di platform X.

"Kami telah meminta penjelasan dari otoritas Israel dan menegaskan kewajiban mereka untuk melindungi hak-hak warga negara kami dan seluruh pihak yang terlibat,” demikian Cooper menambahkan.

Sanksi buat Ben-Gvir

Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin menyatakan bahwa dirinya berniat mengangkat isu perlakuan terhadap para aktivis tersebut di tingkat Uni Eropa.

“Kami di Finlandia tidak membenarkan tindakan yang terlihat dalam video tersebut dan akan meminta klarifikasi dari duta besar Israel terkait perlakuan terhadap anggota flotilla Sumud yang ditahan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Finlandia di X.

Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menyebut tindakan Israel tidak dapat diterima dan mengatakan anggota misi diplomatik Norwegia di Tel Aviv akan mengunjungi para tahanan di penjara pada Kamis untuk memberikan bantuan konsuler.

Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard turut mengecam tindakan Ben-Gvir terhadap anggota flotilla Sumud yang ditahan.

Dia menambahkan bahwa insiden tersebut memperkuat alasan Swedia untuk mendesak penerapan sanksi terhadap menteri-menteri ekstremis Israel.

Islamabad juga mengecam keras intersepsi Israel terhadap flotilla Sumud dan perlakuan terhadap para aktivis, menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan.

“Mereka yang ditahan dilaporkan juga termasuk aktivis kemanusiaan Pakistan Saad Edhi. Pakistan menuntut pembebasan segera seluruh aktivis yang ditahan secara ilegal. Pakistan juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjamin keselamatan, martabat, dan hak-hak dasar para tahanan,” demikian isi pernyataan kementerian tersebut.

Kementerian itu menambahkan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi erat dengan misi diplomatik Pakistan di kawasan guna memastikan kepulangan warganya dengan aman ke tanah air.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA



Pewarta: Primayanti
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026