Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Kopiah resam merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Kopiah resam termasuk salah satu dari 386 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) kategori pengetahuan tradisional di Kabupaten Bangka Barat.

Kategori OPK pengetahuan tradisional, meliputi busana, kerajinan, metode penyehatan, jamu, makanan dan minuman lokal, serta pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memasukkan kopiah resam sebagai salah satu OPK pengetahuan tradisional sebagai upaya melestarikan, melindungi dan mengembangkan kerajinan tradisional itu. 

Keberadaan kopiah resam di Desa Kacung dan Dendang sudah ada sejak 1800an. Fakta tersebut dikuatkan dengan adanya koleksi KITLV dalam bentuk foto dengan objek kopiah resam dari Bangka pada keterangannya tertera sekitar tahun 1880.

Kopiah resam ini kemungkinan merupakan salah satu peninggalan masa penyebaran Islam di Pulau Bangka oleh Tuan Guru Syaikh Abdurrahman Siddik pada masa itu.

"Menurut perkiraan kami Tuan Guru dipanggil untuk pulang ke Indragiri pada 1920 dan pada saat itu sudah menurunkan keterampilan menganyam resam untuk dijadikan kopiah sebagai penutup kepala saat shalat," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan.

Syaikh Abdurrahman Siddik merupakan ulama besar asal Banjar yang berperan penting menyebarkan Agama Islam ke Pulau Bangka pada rentang 1898-1909. Dia juga dikenal dengan sebutan Tuan Guru Syaikh Abdurrahman Siddik.

Terbuat dari serat resam


Tumbuhan resam banyak ditemui di hutan dan semak-semak di sekitar desa dan perkampungan di Bangka. Tumbuhan resam ini dapat tumbuh setinggi 1,5 meter, sifatnya lentur sehingga mudah diolah.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Bangka Barat, kopiah resam merupakan salah satu produk unggulan lokal dan termasuk salah satu produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) bidang kerajinan.

Pengusaha IKM bidang kerajinan di Bangka Barat, saat ini tercatat sebanyak 626. Dari jumlah itu, hanya ada 102 orang yang menggeluti usaha kerajinan resam, yang tersebar di 11 desa.

Paling banyak di Desa Kacung yaitu 45 perajin, Desa Dendang 23 perajin, Tugang 14, Airbulin 12, selebihnya di Desa Ibul, Pangkalberas, Sinarsari, Tuik, Airmenduyung, Beruas dan Berang.

"Untuk pemasaran produk, kita sudah siapkan beberapa galeri, antara lain di Gedung IKM Sentra Cual di Terminal Mentok, Galeri Dekranasda di Pelabuhan Tanjungkalian, Galeri workshop Desa Dendang, fasilitasi titip jual di salah satu pusat perbelanjaan modern di Pangkalpinang, dan ada sebagian yang jual mandiri," kata Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Bangka Barat Agus Setyadi.

Dinas Perindustrian  juga bekerja sama dengan Dekranasda, baik di tingkat kabupaten maupun Provinsi Babel untuk mendatangkan tenaga ahli dari Balai Besar Kerajinan di Yogyakarta untuk berbagai pelatihan agar produk semakin bersaing sehingga usaha yang dijalankan semakin berkembang dan mandiri.

Selain memberikan fasilitasi pemasaran produk, Pemkab bangka Barat juga melakukan pembinaan dan pendampingan secara berkala, minimal dua kali setahun melakukan pertemuan dengan kelompok perajin kopiah resam.

Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi para perajin untuk kemudian dicarikan solusi agar bisa memberikan jalan keluar sesuai kebutuhan sekaligus motivasi agar para perajin tetap semangat menekuni kerajinan resam.

Kendala produksi kopiah resam yang dihadapi saat ini adalah jumlah perajin yang sedikit dan tidak tersebar merata di setiap daerah di Provinsi Kepulauan Babel, karena banyak berada di Kabupaten Bangka Barat. Selain itu, kopiah resam hanyalah penghasilan sampingan atau tambahan, bukan pekerjaan utama layaknya yang dilakoni perajin di Garut, Yogyakarta, atau Bali.

Para perajin membuat kopiah resam hanya untuk mengisi waktu senggang atau jika ada pesanan. Mereka tidak memiliki kapasitas produksi yang tetap per bulan.

Pemkab Bangka Barat terus berupaya menjaga kelestarian kopiah resam. Selain melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha. Pada tahun 2025, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat telah menyusun Rancangan Peraturan Bupati tentang Pakaian Adat Bangka Barat. Namun belum disahkan.

Pada aturan ini, kopiah resam menjadi salah satu penutup kepala yang direkomendasikan untuk pakaian adat Bangka Barat bersama “tanjak” atau penutup kepala dari kain dan kopiah dari kulit kayu.

Dengan memasukkan kopiah resam dalam perangkat pakaian adat bangka barat untuk digunakan sebagai pakaian wajib pada acara resmi daerah, diharapkan dapat meningkatkan produksi kopiah resam.

Proses pengerjaan

Salah satu keunggulan utama kopiah resam adalah satu kopiah dibuat dengan buatan tangan oleh satu perajin.

Biasanya mereka mencari resam saat hendak pergi berkebun. Saat istirahat dari berikebun, mereka memilih batang resam sesuai kebutuhan.

Untuk membuat kopiah resam, biasanya perajin cukup menggunakan alat bantu sederhana, seperti serutan, pisau, jarum pengait, dan lilin madu. Sedangkan bahan baku yang dibutuhkan yaitu batang tumbuhan resam dan pewarna alami hasil ekstraksi kulit kayu samak.

Pada proses persiapan bahan, batang resam perlu direndam dalam air kurang lebih tiga hari, selanjutnya dijemur hingga kering. Setelah kering kulitnya dipisah dari batangnya. 

Batang resam yang sudah dipilih kemudian diserut untuk menghasilkan serat yang akan digunakan sebagai bahan anyaman. Proses ini membutuhkan keahlian khusus karena semakin halus serat yang dipisahkan maka akan mempengaruhi kualitas kehalusan anyaman setelah barang jadi. Hal ini juga berpengaruh terhadap kualitas dan harga barang jadi, semakin harus serutan semakin mahal.

Setelah bahan baku terkumpul cukup banyak, maka akan dimulai proses penganyaman dengan alat bantu cetakan ukuran kepala yang terbuat dari kayu. Pada proses menganyam ini dibutuhkan ketelitian dan kesabaran agar menghasilkan anyaman yang rapi dan sesuai standar ukuran kopiah.

Waktu yang dibutuhkan pada proses pengerjaan kopiah resam bergantung pada tingkat kesulitannya. Semakin rapat anyaman dengan serat lembut, maka semakin lama proses pengerjaannya.

Harga kopiah resam sangat bervariasi, semakin rapat anyaman, semakin lama waktu pengerjaan, semakin mahal harganya.

Untuk kualitas kopiah resam yang biasa, seorang perajin dalam sehari dapat membuat dua kopiah dan biasanya kualitas ini dijual di pasar dengan harga Rp50.000 per kopiah.

Sedangkan, kopiah resam kualitas tinggi seharga Rp1 juta-Rp2 juta membutuhkan waktu pengerjaan sebulan. Biasanya kopiah dengan harga mahal tersebut terbuat dari serat halus dengan anyaman rapat, kopiah jenis ini memiliki keistimewaan bisa dilipat tanpa merusak struktur anyaman.

Setelah anyaman selesai dibentuk, akan dilakukan proses pewarnaan. Hal ini penting dilakukan karena serat resam yang sudah dianyam biasanya warna tidak rata sama sehingga dibutuhkan pewarnaan untuk menyamakan warna kopiah.

Para perajin akan melakukan pewarnaan dengan bahan alami yaitu kulit kayu samak. Kulit kayu samak terlebih dahulu dibersihkan dan dipukul berulang merata agar lembut. Kemudian dimasukkan ke dalam wadah panci berisi air, dimasak hingga mendidih dan mengental. Air rebusan kayu samak ini yang kemudian dimanfaatkan untuk mewarnai kopiah serat resam dengan cara dicelup atau dikuas secara merata sesuai warna keinginan.

Untuk kopiah berkualitas tinggi, biasanya serat resam yang dipakai murni tanpa dicampur bahan lain, anyaman rapat, tidak mudah robek, kuat, lentur bisa dilipat dan tahan lama hingga puluhan tahun.



Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026