"RUU Ormas akan melahirkan tindakan represif baru seperti pada masa Orde Baru, sehingga HTI bersama dengan ormas lainnya dengan tegas menolak pengesahan RUU itu."Pangkalpinang (Antara Babel) - Puluhan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berunjuk rasa menolak Rancangan Undang Undang Organisasi Masyarakat (RUU Ormas) karena terdapat beberapa pasal yang dinilai mempersempit ruang gerak ormas.
"Pada pasal 2 RUU Ormas disebutkan bahwa organisasi hanya diperbolehkan menganut satu asas yaitu Pancasila dan UUD 1945, padahal masih ada landasan hukum yang tertinggi dan benar bersumber dari Allah dan Al Quran," kata Humas HTI Babel Fakhrudin Halim di Pangkalpinang, Minggu.
Selanjutnya, Pasal 7 yang dinilai bertujuan menghilangkan peran ormas dalam mengontrol kebijakan dan program pemerintah.
Lalu, Pasal 58 dan Pasal 61 yang memberikan kewenangan besar kepada Kesbangpol untuk melakukan pengawasan dan pembubaran ormas yang tidak sejalan dengan pemerintah.
"RUU Ormas akan melahirkan tindakan represif baru seperti pada masa Orde Baru, sehingga HTI bersama dengan ormas lainnya dengan tegas menolak pengesahan RUU itu," ujarnya.
Ia mengatakan, pengesahan RUU Ormas merupakan kemunduran besar negara setelah reformasi karena dapat membangkitkan trauma rezim otoritarianisme.
"RUU ini juga tampak sangat diskriminatif karena ada pembedaan pengaturan antara ormas biasa dengan ormas yang merupakan sayap partai politik, sehingga terkesan parpol mau menang sendiri. Semua ormas harus tunduk terhadap RUU ini kecuali ormas milik parpol," ujarnya.
Ia berharap, pemerintah dan DPR melakukan pengkajian ulang terhadap RUU Ormas karena masih terdapat beberapa pasal yang dapat memicu tindakan represif baru.
"Kami mengajak seluruh ormas dan masyarakat di negara ini khususnya di Bangka Belitung untuk menolak pengesahan RUU Ormas yang tidak berpihak kepada mayarakat," ujarnya.
Selain itu, kata dia, seharusnya pemerintah menata ulang kerangka berpikir untuk menemukan jalan bagaimana membina masyarakat dan membawa negara ini ke arah yang lebih baik serta mengenali siapa sesungguhnya yang menjadi ancaman terbesar dan cara menghadapinya.
"Fakta yang ada, ancaman itu adalah ideologi sekularisme, kapitalisme, dan imperialisme modern yang telah mencengkeram negara ini dari berbagai aspek kehidupan, terutama di bidang politik dan ekonomi," ujarnya.
Pewarta: Oleh Aprionis/SutanEditor : Aprionis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.