Para nelayan ini melakukan audiensi dengan Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Didit Sri Gusjaya. Mereka menyampaikan keluhan terkait dampak limbah atau lumpur dari aktivitas pertambangan kapal produksi (KIP) di wilayah tersebut.
“Jadi sekarang jangankan kami mau cari uang, makan dari hasil laut juga sudah susah dan kami sangat merasa sedih sekali,” katanya Ketua Nelayan Laut Bembang, Suwandi kepada media di Pangkalpinang, Selasa.
Ia mengatakan saat ini masyarakat yang melakukan aktivitas memancing juga tidak boleh lagi karena ada kapal isap yang bekerja di laut tersebut dan saat kami turun ke lokasi langsung memang ada 3 kapal yang sekarang bekerja di membang itu.
Oleh karena itu semua nelayan Desa Airnyatoh menolak dampak limbah dari aktivitas kapal isap yang bekerja di perairan Desa Bembang karena itu bersebelahan dengan desa mereka.
Suwandi berharap DPRD Babel dan pemerintah daerah dapat melakukan berbagai upaya untuk mencegah akibat dampak dari limbah atau lumpur itu sendiri. Lebih dari 2.000 penduduk ada di Desa ini yang 80% mata pencahariannya adalah nelayan.
“Kami harap pemerintah dapat membantu nelayan tradisional karena ketika lumpur terangkat, masuk ke wilayah tangkap nelayan tidak bisa keluar lagi dan lumpur itu sangat meresahkan ikan-ikan di laut. Jadi kami minta pemda melakukan upaya pencegahan akibat dari dampak lumpur itu sendiri,” ujarnya.
Pewarta: Elza ElviaEditor : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026