"Kenaikan NTP-Pr sebesar 0,63 persen menggambarkan naiknya NTP-Pr yang disebabkan perubahan indeks harga yang diterima petani (IT) lebih besar dibandingkan perubahan indeks harga yang dibayar petani (IB)," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Babel, Teguh Pramono di Pangkalpinang, Sabtu.
Ia menjelaskan, kenaikan yang terjadi pada IT karena indeks pada subkelompok tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 1,50 persen.
Pemicu utama kenaikan indeks subkelompok ini adalah naiknya indeks beberapa komoditi antara lain karet dan lada/merica.
Sedangkan kenaikan yang terjadi pada IB karena adanya kenaikan indeks pada kelompok KRT sebesar 0,98 persen dari 128,72 menjadi 129,98 dan kenaikan indeks pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,38 persen dari 113,50 menjadi 113,93.
Sementara itu, pada Januari 2013 NTP-Pt mengalami kenaikan indeks dari 94,69 menjadi 96,05.
"Kenaikan NTP-Pt sebesar 1,43 persen menggambarkan naiknya NTP-Pr yang disebabkan perubahan IT lebih besar dibandingkan perubahan IB," ujarnya.
Ia mengatakan kenaikan yang terjadi pada IT karena naiknya indeks pada subkelompok ternak besar sebesar 1,32 persen, subkelompok ternak kecil naik sebesar 1,86 persen, subkelompok unggas naik sebesar 3,23 persen dan subkelompok hasil ternak naik sebesar 1,98 persen.
Pemicu utama kenaikan indeks subkelompok tersebut adalah naiknya indeks beberapa komoditi antara lain; sapi potong (ternak besar), babi (ternak kecil), ayam (unggas) dan telur (hasil ternak).
Sedangkan kenaikan yang terjadi pada IB karena adanya kenaikan indeks pada kelompok KRT sebesar 1,08 persen dari 126,25 menjadi 127,61 dan kenaikan indeks pada kelompok BPPBM sebesar 0,47 persen dari 104,64 menjadi 105,13.
Editor : Wira Suryantala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.