Muntok (Antara Babel) - Pengelola Desa Wisata Diengkulon, Jawa Tengah, Alif Faozi, menyatakan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung perlu mengangkat kearifan lokal untuk pengembangan sektor pariwisata di daerah itu.
"Wisatawan ingin melihat hal yang berbeda setiap berkunjung ke suatu daerah. Kami yakin potensi besar kearifan lokal dengan adat dan budaya masyarakat Muntok yang berbeda dengan daerah lain akan diminati banyak wisatawan," katanya di Muntok, Kamis.
Alif Faozi datang ke Muntok untuk mengikuti kegiatan Kementerian Pariwisata bertajuk "Home Stay Fair 2015" yang digelar di daerah itu mulai 10 hingga 12 September 2015.
Ia mengatakan, desa wisata Diengkulon yang dibinanya sejak 2006 pada awalnya hanya kampung petani sederhana dan jarang dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
"Pada awalnya hanya ada lima unit homestay di desa kami, namun saat ini sudah berkembang lebih dari 100 unit yang setiap akhir pekan dikunjungi ribuan orang wisatawan," kata dia.
Menurut dia, berkembangnya sektor pariwisata tidak terlepas dari kejelian pengelola homestay di daerah itu yang sejak awal memahami potensi daerah yang dikemas sesuai kebutuhan wisatawan.
"Masyarakat Diengkulon saat ini masih bertani kentang, carica seperti dahulu dan mereka kami berdayakan melalui program pariwisata inti rakyat," kata dia.
Dengan mengedepankan adat, budaya dan kearifan lokal, kata dia, saat ini rata-rata pendapatan setiap home stay Rp4,5 juta per bulan.
Dalam kearifan lokal, kata dia, masyarakat ditanamkan untuk menjadikan wisatawan sebagai saudara dari jauh yang ingin menikmati suasana perdesaan.
Jalinan silaturahim tersebut harus terus dibina agar para wisatawan yang datang ke daerah itu terkesan dan akan kembali lagi.
"Pola-pola sederhana seperti itu yang terus kami tekankan kepada masyarakat Desa wisata Diengkulon dan sampai sekarang mereka bisa mendapatkan dampak ekonomi yang cukup tinggi di bidang pariwisata," kata dia.
Menurut dia, Muntok yang memiliki potensi sejarah dan budaya yang cukup besar akan mampu sejajar dengan daerah lain yang sudah mengembangkan wisata home stay.
"Wisata sejarah memiliki segmen pelajar, mahasiswa dan akademisi, Muntok harus mampu membidik segmen tersebut, selain itu perlu juga sarana pendukung wisata lain seperti penyediaan cinderamata, penginapan, transportasi dan kuliner murah," kata dia.
Menurut dia, pemahaman terhadap potensi wisata yang ada akan mempermudah dalam membidik pasar dan Muntok yang memiliki potensi sejarah dan budaya akan berkembang jika mendekatkan objek kepada kalangan pelajar dan mahasiswa.
