Pangkalpinang, (ANTARA Babel) - Tambang inkonvensional (TI) apung di laut Bangka Belitung sangat mempengaruhi potensi perikanan, karena sebagian besar ikan-ikan di daerah pertambangan pasti akan pindah dan hilang.
"Aktivitas pertambangan di laut ini sangat besar pengaruhnya terhadap potensi perikanan tangkap di Babel, karena air menjadi keruh dan secara otomatis perikanan di wilayah pertambangan itu akan pindah dan hilang," kata Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan dan Kelauatan Babel, Hidayat di Pangkalpinang, Jumat.
Ia mengatakan, walaupun ada peraturan daerah dan pemetaan untuk wilayah pertambangan terkadang mereka sengaja melanggar ketika tidak ada pengawas untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.
Saat ini jumlah TI apung di Babel sulit diprediksi bahkan terus bertambah sehingga akan mempersulit masyarakat dan pemerintah.
Secara keseluruhan total jumlah TI apung yang ada di laut Bangka tercatat sebanyak sebanyak 6.200.
Sementara itu, bukan hanya potensi perikanan yang dirusak oleh TI apung, akan tetapi semua potensi yang ada di laut seperti terumbu karang dan potensi kelautan lainnya.
"Secara umum kalau dilihat dari hasil perikanan Babel tidak menentu bahkan beberapa tahun terakhir sempat terjadi penurunan," katanya.
Menurut dia, penurunan itu terjadi karena pengaruh TI apung dan faktor alih profesi nelayan menjadi buruh dan bekerja di sektor pertambangan.
Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah ke depannya akan melakukan pengawasan pertambangan di laut secara ketat.
Menurut dia, untuk melakukan pengawasan tersebut tidak bisa dilakukan oleh pemerintah dan aparat kepolisian saja, tetapi harus didukung oleh kesadaran masyarakat setempat dengan ikut serta mengawasi dan melaporkan kepada pihak terkait.
"Dengan adanya kerja sama tersebut secara perlahan TI apung pasti bisa ditanggulangi dan secara otomatis akan bisa meningkatkan hasil potensi perikanan di laut Babel," katanya.
(T.KR-WRA)
