Pangkalpinang (ANTARA) - Lima Asosiasi profesi yakni Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI), Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) dan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) menggelar Ice breaking Joint Convention Pangkalpinang (JCP) di gedung Graha Timah.
"Gala dinner malam ini adalah bentuk apresiasi kami kepada para sponsor yang telah mendukung kegiatan joint convention (JC) kami di Pangkalpinang ini," kata Ketua Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI), Taufik Adityarahman kepada media usai membuka Ice breaking tersebut, Senin (23/10) malam.
Ia mengatakan sebelum menggelar Ice breaking ini ada juga pre event JCP dari technical meeting, discussion dan fun run 5k yang sudah digelar sejak minggu kemarin hingga malam ini Ice breaki g JCP diikuti ratusan peserta dari lima Asosiasi yang berasal dari semua provinsi di Indonesia.
"Sebelum gala dinner ini ada juga pra event yang sudah kami gelar sejak kemarin dan besok dilanjutkan dengan diskusi panel sampai hari Kamis nanti," ujarnya.
Taufik menjelaskan, Joint Convention Pangkalpinang (JCP) adalah kegiatan konferensi terkemuka yang dilaksanakan dua tahun sekali sebagai bentuk kerjasama kolaborasi antara lima Asosiasi IAGI, IAFMI, HAGI, IATMI dan PERHAPI.
Tahun ini konvensi bersama JCP mengusung tema "Transisi energi dan mineral untuk kelestarian lingkungan sumber daya Indonesia" yang hasilnya nanti untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa dan negara.
"Tema tahun ini transisi energi yang didalamnya ada trilema dalam mengelola transisi energi karena ada dampak untuk ekonomi dan sustainability dengan memaksimalkan SDA yang masih ada di Indonesia," ujarnya.
Menurut Taufik Joint Convention sebelumnya digelar di Malang, Balik papan, Bandung Jawa Barat dan Yogyakarta, pastinya di pulau-pulau yang ada relevansinya. Dan tahun ini sengaja digelar di Bangka karena identik dengan tambang dan geologinya serta potensi wisata Babel bisa dikembangkan.
Selain itu Bangka juga identik dengan sumber daya mineral yang kedepan nanti sumber energi thorium itu bersumber dari Bangka.
"Kenapa pilih di Bangka karena identik dengan sumber daya mineral yang orang luar lebih paham bahwa ada sumber daya yang lebih berpotensi dari energi thorium kedepan menggantikan fosil untuk tenaga nuklir," ujarnya.
