Pangkalpinang (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyatakan sebanyak 10.404 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kepulauan Babel menerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) Semester I-2025 sebesar Rp694,46 miliar.
"Penyaluran KUR semester I tahun ini menunjukkan capaian positif, sehingga dapat membantu pemerintah untuk menggerakkan perekonomian masyarakat," kata Kepala Kanwil DJPb Kepulauan Babel Sukriyah, di Pangkalpinang, Kamis.
Ia menyatakan realisasi penyaluran KUR di Provinsi Kepulauan Babel selama semester I-2025 sebesar Rp694,46 miliar kepada 10.404 debitur, sehingga dapat mendorong pertumbuhan dan pergerakan perekonomian masyarakat di Negeri Serumpun Sebalai ini.
"Meski ada tantangan kondisi global yang berdampak pada ketidakpastian ekonomi secara keseluruhan, namun semangat kita tidak boleh surut untuk memperkuat perekonomian masyarakat," katanya pula.
Dia menyatakan penyerapan KUR selama semester pertama tahun ini didominasi sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 52,40 persen, perdagangan besar, eceran 27,70 persen.
Kabupaten Bangka menjadi wilayah teraktif dengan kontribusi penyaluran sebesar 22,09 persen atau Rp153,4 miliar kepada 2.161 debitur.
"Outstanding aktif sebesar Rp644,23 miliar atau 92,77 persen di tangan pelaku usaha adalah modal penting untuk bertahan dan bangkit dan ini momentum untuk menggali potensi baru," ujarnya lagi.
Ia menyoroti peluang emas yang belum tergarap maksimal yaitu sektor perikanan. Kontribusi KUR sektor perikanan ini baru 5,01 persen untuk penyaluran dan 6,10 persen untuk debitur.
"Ini bukan kelemahan, tetapi ruang pertumbuhan bagi Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan yang memiliki potensi perikanan yang besar," ujarnya pula.
Dia menambahkan, saat ini Kanwil DJPb Babel telah menyiapkan langkah proaktif seperti edukasi masif tentang kemudahan KUR dan pentingnya menjaga riwayat kredit (SLIK) melalui kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan dinas terkait.
Selaian itu, pihaknya juga rutin melakukan monitoring dan evaluasi (monev) rutin on-the-spot kepada kreditur guna memastikan penyaluran KUR yang tepat sasaran.
"Ke depannya guna memitigasi risiko kredit, kami berencana melakukan identifikasi dan klasifikasi debitur guna identifikasi dini potensi kredit bermasalah sekaligus membantu UMKM atasi kesulitan," demikian Sukriyah.
