Beirut (ANTARA) - Di Lebanon selatan, Tahun Baru dirayakan bukan dengan suara letupan kembang api, melainkan dengan dengungan listrik tanpa henti dari drone pengawasan.
Di kelas-kelas di seluruh desa-desa perbatasan, para murid kesulitan fokus pada buku pelajarannya, konsentrasi mereka terganggu oleh dunia di luar kelas.
Seorang murid di Sekolah Al-Firdis Lina Nasr mengatakan bahwa dia sering menutup mata saat pelajaran, berdoa dalam hati agar langit tetap tenang -- sebuah harapan yang dia anggap sebagai salah satu keinginannya yang paling penting untuk Tahun Baru.
Di lapangan bermain sekolah Kfarchouba, momen-momen langka tawa para murid berulang kali terganggu oleh dentuman tembakan artileri dari kejauhan. Hassan Yahya (14), seorang murid di sekolah itu, mengatakan bahwa dia tidak lagi memimpikan mainan atau pakaian baru, tapi, memimpikan tahun di mana perjalanan ke sekolah bukanlah perjalanan yang penuh ketakutan.
"Satu-satunya harapan Tahun Baru saya adalah agar perang ini berhenti, dan agar semua tempat yang biasa saya kunjungi menjadi aman kembali," kata Yahya.
Ibunya yang bernama Sarah (40), mengatakan bahwa keluarganya sudah terbiasa tidur dengan pakaian lengkap selama periode peningkatan ketegangan, bersiap menghadapi keadaan darurat.
"Anak-anak kami tidak lagi bisa membedakan antara suara tembakan artileri dan guntur, dan mereka selalu waspada," kata dia.

Baca juga: Harapan tahun baru bagi anak terdampak perang Timur Tengah (bagian 1)
Menurut laporan bersama Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dan Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, anak-anak di seluruh negeri mengalami luka psikologis dan fisik yang mendalam. Paparan terus-menerus terhadap kekerasan dan pengungsian telah memunculkan kecemasan kronis, gangguan tidur, dan kesulitan konsentrasi yang parah
Saat 2026 dimulai, banyak orang menatap masa depan. Namun, bagi Hamad, Abdel-Rahim, dan Yahya, harapan justru bersifat retrospektif. Harapan Tahun Baru mereka bukan untuk kemungkinan di hari esok, melainkan untuk kepastian yang telah hilang -- bunyi bel sekolah, kehadiran seorang ayah, dan beberapa jam tenang di bawah langit.
Harapan mereka bukan hal biasa, harapan itu begitu memilukan. Itulah harga yang harus dibayar akibat konflik berkepanjangan -- harga yang kini tak lagi sanggup ditanggung oleh kawasan ini.
