Pangkalpinang (Antara) - Perajin tempe di Kota Pangkalpinang Provinsi Bangka Belitung (Babel), mengeluhkan stok ragi yang kosong sehingga mereka sulit untuk memproduksi makanan dari bahan kacang kedelai tersebut.
"Pembuatan tempe ini membutuhkan ragi, jika tidak ada maka prosesnya akan gagal dan perajin bakal merugi seiring harga kedelai yang cukup tinggi," kata perajin tempe, Wak Cun di Pangkalpinang, Kamis.
Ia menjelaskan, ragi mulai menghilang dari pasaran tiga hari yang lalu, sehingga perajin tempe menghentikan produksinya.
"Meski ragi ada, tetapi harganya melambung tinggi menjadi kisaran Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per bungkus dari harga sebelumnya Rp10 ribu per bungkus, sehingga biaya produksi yang dikeluarkan perajin semakin tinggi," ujarnya.
Wak Cun mengatakan, tingginya harga ragi menyebabkan banyak perajin membuat ragi sendiri. Namun tempe yang dihasilkan kurang baik, misalnya menjadi berwarna cokelat dan hitam, yang berpotensi tidak laku dijual.
"Saat ini, saya memilih untuk menghentikan produksi tempe hingga stok dan harga ragi kembali normal," ujarnya.
Menurut dia, ragi untuk fermentasi dan juga menurunkan senyawa beracun seperti anti-tirosin pada kedelai, yang kadarnya menurun bila dijadikan tempe. Fermentasi turut mempertinggi nilai gizi, karena mikroba bersifat memecah senyawa kompleks memjadi senyawa sederhana.
"Percuma kacang kedelai banyak, namun tidak ada ragi untuk proses pembuatan tempe ini," katanya.
Sementara itu, Marlina, pedagang tempe, mengatakan, harga tempe naik karena hasil produksi tempe dari perajin lokal berkurang.
"Saat ini, harga tempe naik Rp500 per potong. Misalnya dari harga Rp1.000 naik menjadi Rp1.500 per potong," ujarnya.
Menurut dia, kenaikan harga tempe belum memengaruhi permintaan konsumen, karena produk tersebut diminati konsumen terkait harganya murah dan cukup bergizi.
"Untuk saat ini, kami sulit menambah stok tempe, karena sebagian perajin tidak lagi membuatnya. Banyak konsumen yang mengeluh seiring stok tempe cepat habis dibeli warga yang lebih dulu datang," ujarnya.
