Sungailiat (Antara Babel) - Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sungailiat Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, Yulhaidir mengatakan petani setempat mulai menanam lada setelah tambang biji timah rakyat berkurang.
"Saya melihat para petani mulai melakukan aktivitas menanam lada kembali setelah sebelumnya ada sebagaian yang beralih di pertambangan biji timah rakyat," katanya di Sungailiat, Selasa.
Dipilihnya sektor perkebunan lada kata dia, selain karena mulai berkurangnya penambangan biji timah juga dipengaruhi oleh harga jual biji lada yang cukup mahal ditingkat petani.
"Harga lada yang sebelumnya hanya sebesar Rp130.000 per kilogram sekarang naik menjadi Rp140.000 per kilogram," katanya.
Tingginya harga biji lada yang berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan petani kata dia, adanya dugaan permintaan pasar eropa cukup tinggi yang selama ini masih kurang.
"Kita berharap harga lada minimal bertahan sebesar itu atau lebih baiknya meningkat dari harga sekarang, karena tanaman lada yang baru ditanam akan siap panen selama lebih kurang dua tahun ke depan," katanya.
Dia mengatakan, setiap satu batang lada yang berkualitas bagus dapat menghasilkan biji lada kering sebanyak dua sampai tiga kilogram, dengan rasio per batangnya mendapatkan hasil Rp420.000 dengan harga jual Rp140.000 per kilogram.
"Jumlah produksi itu tentunya memberikan harapan perkembangan positif terhadap sektor perkebunan lada," katanya.
Dikatakan, perlakukan batang lada supaya menghasilkan produksi yang memuaskan tentu harus secara intens dipelihara dengan baik termasuk memperhatikan obat-obatan yang dibutuhkan, mulai dari mencermati hama sampai dengan penyakit lada lainnya.
"Saya yakin, tidak ada kata terlambat bagi petani untuk memulai menanam lada bagi yang belum menanam sekarang, karena sektor perkebunan merupakan sektor unggulan yang diprogramkan pemerintah daerah setempat," katanya.
