Muntok (Antara Babel) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendorong seluruh desa di daerah itu membangun lapangan gasing untuk pelestarian permainan tradisional khas Melayu tersebut.
"Harus ada gerakan bersama untuk pelestarian gasing sebagai salah satu warisan budaya leluhur, kalau hanya melalui lomba setahun sekali kami khawatir suatu saat akan ditinggal generasi selanjutnya," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, dan Informatika Kabupaten Bangka Barat, Sukandi di Muntok, Sabtu.
Sebagai salah satu upaya pelestarian permainan tradisional tersebut, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan para tokoh masyarakat desa, kelompok pegiat gasing dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten setempat.
"Melalui koordinasi tersebut kami berharap pola pelestarian dari beberapa pelaku dan instansi terkait bisa berjalan beriringan sehingga permainan ini bisa dipertahankan," katanya.
Selain gerakan pembinaan, pihaknya juga mendorong pemerintah desa untuk membangun lapangan gasing standar dengan ukuran minimal satu tiang yang bisa digunakan untuk latihan para pegiat gasing di desa setempat.
Ia mengatakan, saat ini sebagian besar desa di daerah itu terdapat kelompok pegiat gasing yang secara rutin menggelar latihan, meskipun dengan fasilitas seadanya.
"Biasanya mereka bermain di depan rumah atau di tanah lapang, kami berharap ke depan mereka bisa bermain di lapangan standar agar kemampuan dan motivasinya meningkat," ujarnya.
Menurut dia, untuk pembangunan lapangan gasing standar tidak membutuhkan biaya besar dan pemerintah desa bisa menganggarkan melalui dana desa.
"Kami yakin pemerintah desa bisa memfasilitasi pembangunan lapangan tersebut karena anggaran sudah tersedia dan bisa dialokasikan untuk pelestarian budaya lokal," katanya.
Ia optimistis dengan adanya ketersediaan lapangan gasing di setiap desa akan memberikan motivasi bagi masyarakat untuk memainkan permainan tradisional tersebut sehingga upaya pelestarian budaya akan tumbuh dengan sendirinya.
"Kami tidak bisa berjalan sendiri dalam pelestarian budaya lokal, perlu gerakan bersama agar warisan leluhur yang memiliki nilai kearifan lokal tersebut bisa terus dirasakan oleh generasi selanjutnya," katanya.
