Muntok (Antara Babel) - Perajin tenun cual Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempertahankan pola pengerjaan manual sebagai upaya menjaga warisan leluhur.
"Meskipun motifnya cukup sulit, namun tetap kami kerjakan secara manual dengan alat tenun bukan mesin persis seperti pembuatan cual pada zaman dahulu," kata perjain tenun cual Mahdalena di Muntok, Minggu.
Ia mengatakan, upaya pelestarian tenun dengan pengerjaan manual merupakan bentuk dedikasinya dalam mempertahankan warisan budaya yang ada di daerah itu.
Selain pola pengerjaan tradisional, kata dia, motif-motif yang dikerjakan juga merupakan motif lokal, seperti motif kucing tidur, pucuk rebung, ubur-ubur, penganten bekecak, kembang kenanga, dan lainnya.
Menurut dia, motif cual lama asli Muntok memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi dan tidak ditemukan di motif tenun maupun batik dari daerah lain.
Tenun cual merupakan kain tenun seperti songket dengan warna cerah dan menyala khas kain tradisional Melayu bermotif mirip songket Palembang tetapi lebih luwes dan memiliki lebih banyak lengkungan serta selalu dihiasi motif flora dan fauna.
Untuk menenun sepasang kain cual motif lama, masing-masing ukuran 180X100 centimeter untuk bawahan dan ukuran 180X80 centimeter untuk selendang, kata dia, penenun mahir membutuhkan waktu sekitar 20 hari dengan lama kerja delapan jam per hari.
"Memang pengerjaannya membutuhkan waktu cukup lama karena tingkat kerumitan motif tinggi, detail motif kecil-kecil sangat tergantung pada helai per helai benang yang ditenun," kata dia.
Kain cual produknya juga mengalami perubahan dibandingkan kain cual lama yang biasanya didominasi dengan benang emas.
"Kami sengaja tidak memproduksi kain berbenang emas karena biaya produksinya terlalu tinggi dan susah menjualnya," katanya.
Produk sepasang kain cual motif lama yang dipasarkan sekarang dijual dengan harga antara Rp3.500.000 hingga belasan juta rupiah, tergantung bahan dan motif.
