Muntok, Bangka Belitung, (ANTARA) - Desa Tuik, Kecamatan Kelapa yang seluruh masyarakatnya memilih menjadi petani dalam tiga tahun terakhir menjadi salah satu desa yang cukup fenomenal di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.
Kerja keras masyarakat didampingi pemkab setempat dalam waktu relatif singkat berhasil menjadikan desa berpenghuni 167 kepala keluarga tersebut menjadi desa swasembada pangan pertama di kabupaten yang memiliki 64 desa/kelurahan tersebut.
"Sebagai salah satu komitmen kami untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi di desa itu, kami akan membuka lahan lagi sesuai potensi lahan yang dimiliki desa tersebut yaitu 360 hektare," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat Suhadi.
Selain itu, pemkab juga sudah mengusulkan ke Kementerian Kehutanan untuk menurunkan status dari Kawasan Hutan Lindung menjadi Areal Penggunaan Lain (APL).
Jika rekomendasi dari Pemerintah Pusat turun, pihaknya juga sudah menyiapkan rencana untuk sesegera mungkin membuat perarutan daerah dan peraturan bupati untuk melindungi lahan tersebut dari kepantingan sektor lain.
"Ancaman dicaplok sektor lain masih cukup mengkhawatirkan, karena pertanian apalagi menanam padi merupakan pekerjaan baru bagi masyarakat di daerah itu yang secara tradisi terbiasa dengan perkebunan dan menambang bijih timah," kata dia.
Suhadi pada kegiatan panen raya yang dilaksanakan pada Kamis (6/12) mengatakan luas lahan yang ditanami padi di hamparan di kaki Gunung Maras tersebut seluas 170 hektare dengan ditanami padi varietas lokal utan antu dan mukat.
Produktivitas varietas lokal tersebut sudah cukup bagus yaitu antara 2,3 ton hingga 3,8 ton gabah kering panen per hektare atau antara 1,6 ton hingga 2,5 ton beras sekali panen.
"Jika dirata-rata produksinya bisa mencapai 340 ton sekali panen, padahal kebutuhan konsumsi beras warga desa berpenduduk 894 jiwa itu hanya sekitar 125 ton per tahun dengan penghitungan 139,15 kilogram per kapita per tahun," kata dia.
Ia mengatakan, sisa produksi petani desa itu selama ini menjadi buruan warga di sekitar daerah itu, bahkan tidak jarang warga luar daerah datang ke Desa Tuik hanya untuk membeli beras berwarna kemerahan tersebut.
"Meskipun dijual dengan harga Rp14.000 per kilogram, namun pada kenyataannya beras tersebut selalu habis diserbu konsumen," kata dia.
Gubernur Babel Eko Maulana Ali dalam kunjungannya beberapa waktu lalu berjanji untuk terus mempertahan hamparan tersebut menjadi lahan tanam padi dan secara bertahap akan ditingkatkan dari lahan ladang menjadi sawah.
Langkah tersebut dilakukan dalam upaya meningkatkan produksi beras Babel sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari daerah lain seperti Pulau Sumatera dan Jawa seperti yang terjadi saat ini.
"Saat ini seluruh petani di Babel baru bisa memproduksi sekitar 15 persen dari kebutuhan konsumsi masyarakat, untuk itu perlu komitmen bersama untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dengan sentuhan tehnologi tepat guna," ujarnya.
Ia meminta Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Bangka Belitung untuk terus mengembangkan berbagai tehnologi untuk menignkatkan produksi dan keterampilan petani di daerah itu.
"Perlindungan lahan juga akan kami perhatikan karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak yang wajib dilindungi, bukan tidak mungkin Desa Tuik akan menjadi salah satu lumbung padi daerah selain Bangka Selatan dan Belitung Timur," kata dia.
Sementara itu, Bupati Bangka Barat Zuhri M Syazali memberi apresiasi positif atas hasil yang dicapai warga Desa Tuik dan diharapkan ke depan terus meningkatkan diri dengan keterampilan bercocok tanam seperti yang diajarkan para petuga penyluh lapangan.
"Memang saat ini kita masih sedikit tertinggal dari Kabupaten Belitung Timur dan Bangka Selatan untuk produksi dan produktivitas padi, namun kami yakin ke depan akan menjadi lumbung padi utama Babel," ujarnya.
Ia mengatakan, saat ini di daerah itu hanya ada lahan tanam padi ladang sekitar seribu hektare di beberapa titik hamparan seperti di Desa Tuik, Tumbak Petar, Simpangyul, Beruas dan lainnya, namun ke depan lahan tersebut akan terus bertambah.
"Pada 2013 kami akan buka lagi lahan seluas 1.050 hektare dengan memanfaatkan anggaran dari pusat yang akan dikelola kelompok tani," katanya.
Selain itu, sebagai salah satu komitmen dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas, pemkab secara berkala akan menjadikan lahan ladang menjadi sawah serta menyediakan jaringan irigasi dan embung untuk mengaliri hamparan tersebut.
"Kami yakin kerja sama dengan BPTP Babel yang selama ini terjalin akan mampu meningkatkan produksi beras di daerah itu dan ke depan bukan tidak mungkin pertanian akan menjadi salah satu andalan sektor perekonomian masyarakat Bangka Barat," kata dia.
Bantuan BPTP
Dalam upaya memotivasi warga dia daerah itu untuk terus menggeluti pertanian padi sebagai pekerjaan pokok, BPTB Babel juga tidak mau ketinggalan untuk andil yaitu dengan menyalurkan bibit unggul varietas Inpara 1,5 ton kepada petani di Desa Tuik.
"Kami juga sedang mengembangkan lahan percontohan untuk penanaman Inpari4,5, dan 6, yang sepertinya cocok untuk dikembangkan di Tuik," kata Kepala BPTP Babel Risfaheri.
Sebanyak 1,5 ton benih padi tersebut, kata dia, bisa untuk memenuhi kebutuhan benih petani untuk luas lahan sampai 6.000 hektare dengan perbandingan satu hektare membutuhkan benih sebanyak 25 kilogram.
Ia mengatakan varietas unggul nasional tersebut bisa dikembangkan di Tuik yang diharapkan mampu memproduksi padi sebanyak lima sampai enam ton per hektare, jauh dibanding varietas loka yang saat ini ditanam petani di desa tersebut.
Menurut dia, dengan penanaman varietas unggul disertai peningkatan sarana dan prasarana serta keterampilan petani, pihaknya yakin produksi beras di Babel akan mampe menembus jumlah 32.000 ton per tahun.
"Dengan potensi lahan yang dimiliki dan peningkatan penanaman dari satu kali menjadi dua kali setahun, kami yakin target tersebut akan segera terealisasi," kata dia.
Sebagai komitmen peningkatan produksi dan produktivitas padi tersebut, rsfa mengatakan, pihaknya siap memberikan pendampingan kepada petani di Desa Tuik untuk mmengembangkan pertanian padi modern sampai benar-benar menguasai.
"Kami akan terus mengembangkan tehnologi pertanian untuk mendukung sektor tersebut semakin meningkat di Babel sekaligus mendukung swasembada pangan nasional," kata dia.
Selain meningkatkan kesejahteraan petani melalui sektor pertanian padi, Distanak Kabupaten Bangka Barat juga menyiapkan pengembangan ternak sapi di desa tersebut dengan pola integrasi sapi-sawah.
"Sebagai langkah awal akan kami bantu dengan sepuluh ekor sapi yang pakannya memanfaatkan batang padi sisa penen dan kotoran sapi bisa dimanfaatkan untuk pupuk oraganik," kata Kepala Bidang Peternakan, Gunawan.
Ia mengatakan, dengan adanya percontohan integrasi tersebut diharapkan petani di daerah itu termotivasi mengembangkan peternakan untuk meningkatkan populasi sapi yang saat ini hanya sekitar 1.100 ekor sekaligus mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia.
"Struktur tanah hampir di seluruh Bangka Barat kandungan pasirnya tinggi, butuh pupuk organi banyak untuk meningkatkan unsur hara yang bisa mengembalikan kesuburan tanah," kata dia.
Dengan meningkatnya populasi sapi, ia mengharapkan, penggunaan pupuk organik semakin meningkat sekaligus membantu petani mengurangi biaya produksi tanam padi.
Ia mengatakan, optimalisasi lahan untuk mengembangkan beberapa sektor yang bisa saling menguntungkan menjadi solusi tepat untuk mengatasi semakin sempitnya ketersediaan lahan seiring meningkatnya jumlah penduduk di daerah itu.
