"Harga lada ini berdasarkan nilai tukar dolar terhadap rupiah, karena merupakan komoditas ekspor daerah ini," kata pedagang pengumpul lada putih Ellan di Pangkalpinang, Minggu.
Ia mengatakan saat ini petani enggan menjual hasil panen ladanya, karena mereka menilai harga komoditas itu rendah. Biasanya menjelang puasa pedagang berhasil mengumpulkan 400 hingga 500 kilogram per hari berkurang menjadi 50 kilogram per hari.
"Saat ini petani hanya menjual 10 hingga 20 kilogram lada putih untuk memenuhi kebutuhan pokok menyambut puasa, sementara sisa panen disimpan dan dijual apabila harga komoditas itu kembali naik," katanya.
Ia mengakui posisi harga lada putih di Rp55.000 per kilogram merugikan petani, karena biaya pengolahan dan perawatan tanaman komoditas tersebut yang tinggi.
"Kami memaklumi petani hanya menjual sebagian kecil hasil panennya disaat harga turun drastis, karena biaya yang mereka keluarkan yang sangat tinggi untuk tanaman lada tersebut," katanya.
Sementara itu, Jauhari petani lada putih mengaku hanya menjual 50 kilogram dari 300 kilogram hasil panen ladanya pada awal tahun ini.
"Untuk saat ini kita hanya menjual lada untuk kebutuhan sehari-hari menyambut puasa Ramadhan," katanya.
Ia berharap harga lada putih kembali naik, sehingga petani bergairah mengembangkan perkebunannya.
"Pada tahun ini harga lada putih rendah atau berfluktuasi kisaran Rp55.000 hingga Rp70.000 per kilogram dibandingkan tahun-tahun sebelumnya berfluktuasi kisaran Rp105.000 hingga Rp160.000 per kilogram," katanya.
Pewarta: AprionisUploader : Adhitya SM
COPYRIGHT © ANTARA 2026