Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggandeng 60 pemuda untuk menulis berbasis konten lokal sebagai salah satu upaya pelestarian budaya.
"Sebelumnya kami telah melakukan bimbingan teknis terkait penulisan berbasis konten budaya lokal, kami selanjutnya mengumpulkan hasil tulisan para peserta itu untuk dilakukan proses keredaksian sebelum proses cetak buku," kata Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DPK Kabupaten Bangka Barat Eka Octawianto di Mentok, Rabu.
Menurut dia, penyelenggaraan penulisan berbasis konten budaya lokal ini sebagai salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam melestarikan kekayaan budaya daerah.
Selain itu, untuk mengasah kemampuan menulis para penulis pemula agar mampu menghasilkan karya yang merekam sejarah, tradisi, nilai, dan kearifan lokal masyarakat Bangka Barat.
DPK Kabupaten Bangka Barat memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah sehingga melalui kegiatan itu diharapkan bisa menghasilkan karya tulis yang memperkaya koleksi pustaka daerah dan menjadi sumber pembelajaran lintas generasi.
"Kita terus berupaya agar perpustakaan daerah menjadi wadah yang baik untuk tumbuhnya ekosistem literasi aktif dan produktif agar mampu memunculkan berbagai bentuk karya berkelanjutan, membumikan budaya lokal dan sebagai pusat dokumentasi serta transformasi pengetahuan budaya daerah, seperti sejarah lisan, adat istiadat, cerita rakyat, kuliner tradisional dan potensi budaya lainnya dalam bentuk tulisan yang menarik dan berkualitas," katanya.
Pegiat literasi Marhaen Wijayanto mengatakan kegiatan pelatihan menulis berbasis konten lokal yang dilakukan DPK Bangka Barat memiliki beberapa manfaat, antara lain menumbuhkan rasa cinta tanah air, melestarikan kearifan lokal yang mencerminkan nilai-nilai budaya daerah untuk menjadi identitas bangsa.
"Dengan mempelajari kelokalan yang ada di daerah, kita bisa lebih menghargai budaya sendiri, menjadi sumber inspirasi dan solusi. Banyak kearifan lokal mengandung solusi cerdas untuk masalah lingkungan, pertanian, pendidikan, dan lainnya, seperti sistem menanam padi "behume", gotong royong, toleransi dan lainnya," katanya.
Nilai-nilai kearifan lokal tersebut akan memperkuat kebersamaan antar-anggota masyarakat, menunjang pembangunan berkelanjutan, karena selaras dengan alam dan kehidupan sehingga bisa menjadi dasar pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Setelah pelatihan tersebut, DPK Kabupaten Bangka Barat menindaklanjuti dengan menyusun seluruh hasil karya para peserta untuk dijadikan buku untuk kemudian dipublikasikan, baik dalam bentuk cetak maupun koleksi digital yang bisa diakses masyarakat.
Dengan demikian, perpustakaan akan semakin berperan sebagai pusat pelestarian budaya dan sumber inspirasi literasi berbasis kearifan lokal.
Ke depan, DPK Bangka Barat akan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, akademisi, komunitas literasi, tokoh adat, dan kalangan muda untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah melalui kegiatan literasi yang inklusif dan berkelanjutan.
DPK Bangka Barat gandeng 60 pemuda menulis konten lokal
Rabu, 30 Juli 2025 21:49 WIB
