Pangkalpinang (ANTARA) - "Let China sleep, for when she wakes, she will shake the world". Sebuah ungkapan yang sering dikaitkan dengan Napoleon Bonaparte, seorang pemimpin militer dan politik terkenal dari Prancis. Pada masa itu Napoleon yang seorang pemikir dan ahli strategis sudah melihat jauh ke depan, bahwa Tiongkok (China) yang saat itu masih berada di bawah Dinasti Qing dan tertutup dari dunia luar memiliki potensi untuk menjadi salah satu kekuatan dunia di masa yang akan datang.
Tiongkok selain letak geografis yang strategis, juga didukung dengan jumlah penduduk yang besar, kekayaan budaya dan sejarahnya serta sumber daya alam yang melimpah.
Dan ternyata peringatan Napoleon kepada negara – negara barat itu benar, saat ini Sang Naga (sebuah simbol budaya dan identitas dari negara Tiongkok) telah benar – benar bangun dari tidurnya dan dengan cakarnya yang tajam mulai mengacak-acak hegemoni barat yang selama ini dianggap sebagai kiblatnya kemajuan zaman.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru – baru ini mencanangkan perang dagang dengan menaikkan tarif impor kepada beberapa negara mitra dagang mereka termasuk Indonesia. Perang tarif ini telah membuat banyak negara khawatir dan berusaha melakukan negosiasi dagang dengan AS, tapi berbeda dengan kebijakan yang diambil oleh Tiongkok.
Yakin dengan kekuatan ekonominya, Tiongkok berani melawan dan membalas kebijakan tersebut dengan menaikkan tarif impor bagi produk AS serta memasukkan sejumlah perusahaan AS ke daftar hitam. Tentu saja kondisi ini membuat AS terkejut.
Mereka berharap bahwa Tiongkok akan tunduk dan bernegosiasi seperti Indonesia dan negara lainnya, sehingga dengan mudahnya AS akan mengatur dan ikut campur dalam perdagangan dan perekonomian negara tersebut.
Hal ini pun terjadi pada Indonesia dimana AS ingin melarang penggunaan QRIS dan GPN karena mengganggu produk perbankan mereka yaitu Visa dan Mastercard. Namun perlawanan, terbukti perlawanan ini membuat AS melunak.
Sebenarnya para ahli ekonomi AS jauh hari telah memprediksi bahwa Tiongkok (China) suatu saat nanti akan menggeser hegemoni negara super power ekonomi dunia.
Bahkan Kynge (2006) dalam bukunya “China Shakes the World: The Rise of a Hungry Nation“, telah menyatakan bahwa konflik antara China dan AS sulit terhindari terlepas pernyatannya tersebut dikaitkan dengan masalah Taiwan.
Pada kenyataannya hari ini konflik itu tidak hanya masalah Taiwan tapi telah meluas ke perang dagang. Sang naga tidak hanya diam tapi seperti yang dikhawatirkan oleh Napoleon ratusan tahun yang lalu, ia telah bangun dari tidurnya dan telah mengguncang dunia.
Mungkin belum lepas ingatan kita dengan motor China (mocin) seperti Jialing, Sanex dan lainnya? Ya, motor China atau mocin yang pada tahun 2000an sempat mengganggu penjualan kendaraan bermotor Jepang di Indonesia karena harganya yang murah.
Mungkin banyak dari kita tidak tahu kalo BYD sebelum bertransformasi sebagai perusahaan mobil listrik yang mampu mengalahkan Tesla dari sisi penjualan adalah produsen batere listrik. Menurut Zeng dan Williamson (2008).
Dalam bukunya “Dragos At Your Door” yang diterjemahkan dengan judul “Ancaman Sang Naga : Strategi China Menggempur Dominasi Pesaing Mapan di Pasar Global” menjelaskan bahwa inovasi biaya merupakan strategi yang mereka pilih. Salah satunya adalah strategi biaya murah, sebagai contoh di atas dimana mereka berani menjual mocin hanya separuh harga dari motor pabrikan jepang.
Dalam konteks ini kita tidak bicara mengenai kualitas produk tapi harga yang bagi sebagian masyarakat Indonesia kualitas tidak menjadi masalah penting fungsinya sama dan harganya murah. Itulah sebabnya mengapa banyak Tiongkok membanjiri pasar tidak hanya di Indonesia tapi dunia.
Ketika perang antara Rusia dan Ukraina belum ada kata damai, genosida zionis Israel terhadap warga Palestina belum ada kata henti, dunia malah dikejutkan oleh perang antara dua negara pemilik senjata nuklir yaitu India dan Pakistan.
Dua negara yang sejak berpisah selalu menyimpan bara api sama seperti perseteruan antara dua saudara Korea Selatan dan Korea Utara. Namun, bukan itu konteks utamanya, yang menggemparkan dunia termasuk para politikus serta pengamat perang dan teknologi adalah kemampuan pesawat tempur, misil dan teknologi radar yang dimiliki oleh Pakistan mampu menjatuhkan lima pesawat India berteknologi tinggi buatan Eropa yaitu Prancis dan Rusia.
Masalahnya teknologi itu berasal dari Tiongkok, negara yang selama ini oleh banyak negara produknya dianggap hanya sebelah mata, murah dan tidak berkualitas.
Peralatan tempur produksi Tiongkok yang dibeli oleh Pakistan ternyata bukan kaleng-kaleng walaupun harganya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual peralatan tempur dari negara – negara Eropa seperti Prancis, Inggris ataupun Rusia.
Keberanian Tiongkok menawari konsumennya peralatan tempur berteknologi tinggi dengan harga murah adalah bagian dari strategi inovasi biaya. Strategi pembangunan ekonomi dan industri yang diinisiasi oleh pemimpin dan para ahli ekonominya.
Namun, kita harus sadar bahwa keunggulan teknologi berbiaya murah yang dimiliki oleh Tiongkok tidak semata-mata datang begitu saja. Proses panjang mereka telah lalui, mulai dari proses yang sudah kita kenal yaitu ATM ( amati, tiru dan modifikasi) hingga mampu berinovasi melebihi teknologi produk yang mereka contoh sebelumnya.
Kita ambil contoh bagaimana Tiongkok pada akhirnya mampu membuat kapal induk, proses itu dimulai dari membeli kapal induk bekas dari Ukraina setelah Uni Soviet runtuh yang kemudian dengan dibangun ulang oleh mereka.
Setelah itu dengan kemampuan risetnya pada akhirnya Tiongkok mampu membangun kapal induknya sendiri pada tahun 2017. Kemampuan teknologi peralatan tempur dalam perang India dan Pakistan adalah contoh terbarunya.
Mengapa Tiongkok bisa demikian maju baik ekonomi maupun teknologinya? Tiongkok memiliki pemerintahan yang visioner, yang mampu menjaga dan melaksanakan kebijakannya secara konsisten tidak mudah berubah hal ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh sistem politik mereka.
Disamping itu, dukungan riset dan pengembangan (R&D) menjadi salah satu kuncinya, dan hal tersebut tentu saja membutuhkan sumber daya manusia yang sangat terampil dan inovatif. Hal tersebut tentu saja didukung dengan pendidikan tinggi masyarakatnya.
Tiongkok telah berinvestasi besar untuk mendukung dunia pendidikan tentu saja kurikulumnya selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, road map pendidikannya jelas bukan disesuaikan keinginan menterinya.
Bagusnya pemerintah Tiongkok pun membentuk koneksi yang baik antara industri dan akademik, sehingga lulusannya telah siap pakai untuk masuk ke dalam industri dan menghadapi tantangan teknologi nyata.
Inilah pentingnya kenapa kurikulum pendidikan perlu menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja agar lulusannya dapat terserap maksimal, bukan kurikulum yang didasarkan atas selera dan keinginan pemerintah yang berkuasa.
Memperbaiki kekurangan penting tapi tidak berarti tiap berganti pemimpin kurikulum pun harus ikut berganti, lebih parah lagi dana pendidikan khususnya riset dipotong dengan alasan efisiensi disaat negara lain berlomba-lomba untuk meningkatkan riset. Disinilah peran pemerintah bagaimana mengedepankan riset sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan.
Tiongkok adalah sebuah contoh sebuah negara yang sebelum reformasi ekonomi tahun 1978, merupakan negara miskin, agraris, dan tertutup dari ekonomi global, dan mungkin saat itu Indonesia lebih maju sedikit dikarenakan saat itu Indonesia telah menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih terbuka dan berorientasi pada investasi asing.
Namun, pemimpinnya memiliki visi yang jelas dalam merencanakan pembangunan sebuah bangsa dalam jangka panjang, serta menjadikan kesuksesan negara-negara Asia Timur seperti Jepang sebagai parameternya maka jadilah Tiongkok seperti saat ini. Sebuah negara yang maju secara ekonomi dan teknologi serta mampu mensejajarkan dirinya bahkan ditakuti oleh negara – negara barat saat ini.
Menjadi pertanyaan besar buat kita semua, kapankah Indonesia yang katanya sebagai Macan Asia yang sedang tidur akan terbangun dari mimpi panjangnya? Disaat para pemimpin, politikus dan yang katanya orang-orang hebat di negeri ini masih disibukkan dengan urusan remeh – temeh yang tidak penting bagi kemajuan bangsa, atau disaat kekayaan negara ini habis dikuras hanya untuk dinikmati oleh oligarki dan menafikan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya seperti yang telah tertulis dalam UUD.
Jika memang seperti itu, di saat Sang Naga sedang berlenggak-lenggok di angkasa memamerkan keperkasaannya maka Sang Macan Asia akan tetap tertidur lelap dibuai mimpi-mimpi kejayaan masa lalu.
*) M.Denny Elyasa adalah Analis Kebijakan Ahli Muda
Sekretariat DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
